Minggu, 19 Juni 2011

upil

Upil, satu kata yang terpancar dari sebuah benda, sebuah kenang-kenangan mungil nan nyempil, yang mana benda itu bisa didapatkan setelah kita mengikuti ekspedisi masuk ke pariwisata goa hidung al bulu-bulu via biro jasa tour and travel jari-jari (kayak kuis aja)..
mungkin sedikit risih jika "upil" yang realitanya kecil ini dibahas menjadi sebuah kajian yang panjang, besar, luas atau bahkan bukan sedikit risih lagi yang terasa, memang benar-benar "risih"... hehehe :p tapi jangan salah, upil termasuk golongan hewan yang sakti, bergerak di saluran nafas tapi dia sendiri tak bernafas??? btw suka ngrasa kan kalau nafas ada yang gerak-gerak di dalam hidung, lach, itu namanya si upil... temenya si ipil, ipil dan upil, hehehe...

Hampir semua manusia pernah melakukan aktifitas yang berbau "upil" (di indonesia sie biasa disebut "ngupil", kurang tau juga deh kalau di amerika, prancis, dan negara-negara lainya, apalagi di kampung osama bin laden, :p)...

Aktifitas yang sungguh mengasikkan, menggairahkan bahkan bisa dibilang "hot"... why? karena dengan hanya membutuhkan satu jari saja, ditambah sedikit pengaturan mata yang sayu plus mulut agak digoyang maju-mundur-bawah-atas, ehmmmm, kita sudah dapat merasakan kenikmatan yang luar biasa hebat, apalagi jika sang jari dapat menarik keluar sebuah "upil" yang besar, waawww, salam super kata pak mario... hehehe... (sedikit info my bro n sista, all Dokter spesialis paru-paru asal Austria Prof Dr Friederich Bischinger pernah menyarankan orang untuk makan upil (kotoran hidungnya) sendiri karena diklaim bisa meningkatkan kekebalan tubuh), ehm-ehm, mantabbb, silahkan mencoba ya, ane kapan-kapan dulu aja dah, hehehe...
warning: boleh mencoba, asal pas waktu, situasi dan kondisinya... dan jangan sekali-kali mengupil di rumah makan, jika upil anda tidak mau dikeluarkan secara paksa oleh orang- lain, :p

Iseng-iseng berhadiah, coba deh kita bayangkan (sambil ngupil enak nie :p), jika hidung dengan perangkat bulunya tidak lagi berfungsi memfilter debu/ kotoran dan sang lendir tak lagi dapat menangkap kuman-kuman yang masuk, bukankah penyakit-penyakit liar akan merasuki tubuh kita... apalagi, sudah dibantu hidung dengan anak buahnya si "bulu dan lendir", baca si Be-El, eeeh, si manusia belagu lagi, pake gak mau buang itu upil, kalau nutupin bola hidungnya and gak nafas gimana ayow? masak mau nafas lewat mulut, terus kalau upilnya pada keluar-keluar dari didung ( apalagi) sampai mbentuk kumis, gimana dunk" kumis upil dunk? hehehe...
tuw kan, baru upil doank tuw, dah dapat satu hikmah kesyukuran yang luar biasa... upil-upil namamu norak tapi terkenal ( lagu udin ganti aja deh, :p)

upil, dia muncul tiap waktu, terlebih jikalau si Be-El telah banyak menyaring kuman-kuman dan muncullah benda itu di dalam hidung "eng-ing-eng"... hmmmm, mungkin, kita juga begitu, tiap waktu dipengaruhi oleh kotoran-kotoran kehidupan yang dapat berbuah penyakit pada diri, hati dan jiwa kita masing-masing... sebisa mungkin kita untuk memfungsikan perangkat lunak (si Be-El) untuk membentengi, menyaring, mencegahnya untuk masuk lebih dalam ke sanubari kita, mengumpulkan dan membuangnya, agar kita selalu sehat, baik lahir maupun batin...
dan jikalau kita sadar kita punya kotoran dalam diri, tak perlu repot-repot lagi untuk memblow-up kotoran-kotoran orang lain (demen banged ngorekin kotoran orang, upil aja dah jijik palagi buah dari BAB, huweeeek... )

Dah, mulai saat ini, yuk kita galang, no goshib on, setuju dunk (maksa nie) hehehe...
hidup upil... hehehe... menangkan...

Oiya, bentar-bentar, tau kan bedanya upil ama apel?
katanya sie kalau apel ditaruh diatas meja, kalo upil dioles dibawah meja... :p tapi seingetku kalau apel rasanya manis, sedangkan upil kalau gak salah asin,deh , tau juga sie, kalau gak percaya silahkan mencoba sendiri aja dah, hehehe...

Tak hanya mempersilahkanya untuk diseleksi panca indera sampai bertemu sang logika, tapi perlu pendalaman rasa agar hakikatnya bisa kita terima... nurani, lebih teruji... :)